PENERAPAN DESAIN PEMBELAJARAN INTEGRATIF / INTERAKTIF ANTARA TEORI DAN PRATEK (ITP) BERBASIS PENDEKATAN PMRI UNTUK POKOK BAHASAN INTEGRAL


PENERAPAN DESAIN PEMBELAJARAN INTEGRATIF / INTERAKTIF  ANTARA TEORI DAN PRATEK (ITP) BERBASIS PENDEKATAN PMRI UNTUK POKOK BAHASAN INTEGRAL

Navel O. Mangelep1

Sam Salajang2, Mathilda Lasut3

Abstrak

            Tujuan utama penelitian ini adalah mengetahui apakah hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan desain ITP berbasis PMRI lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional untuk pokok bahasan Integral di kelas XII SMA. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen pretes-posttes dua kelompok. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA Negeri 1 Tomohon yang terdaftar dalam tahun pelajaran 2009/2010, dengan siswa sebanyak 187 orang. Sample penelitian ini diambil dengan teknik random sampling sebanyak 60 orang yang terbagi dalam dua kelas yaitu kelas XII IPA2 yang dikenai pembelajaran dengan desain ITP berbasis Pendekatan PMRI sebagai kelas eksperimen dan kelasXII IPA3 yang dikenai pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional sebagai kelas kontrol. Perangkat pembelajaran yang digunakan yaitu : RPP, LKS, dan Lembar Praktikum. Instrument penelitian yang digunakan adalah tes hasil belajar. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis peragam (ANAKOVA).

Dari analisis statistik yang dilakukan sesuai dengan langkah – langkah anakova diperoleh hasil sebagai berikut. Pertama, kemampuan awal siswa (X) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa (Y), kedua, pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, model regresi yang diperoleh dapat digunakan untuk menunjukkan pengaruh kemampuan awal siswa terhadap hasil belajar siswa. Ketiga, model regresi tidak sama, tetapi sejajar dan konstanta garis regresi untuk kelas eksperimen lebih besar dari konstanta garis regresi untuk kelas kontrol. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Secara geometris, garis regresi untuk kelas eksperimen di atas garis regresi untuk kelas kontrol. Ini berarti Hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan desain ITP berbasis Pendekatan PMRI lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.

Berdasarkan analisis diatas, disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajarkan dengan desain ITP berbasis Pendekatan PMRI lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang diajarkan dengan mengunakan model pembelajaran konvensional.

Kata Kunci : PMRI, ITP, Integral

PENDAHULUAN

Matematika sebagai cabang ilmu yang terstruktur dan terorganisir secara sistematis, disadari mempunyai peran dalam mengoptimalkan kemampuan berpikir manusia. Sebagaimana yang dinyatakan Plato (Gredler,1986) dalam ajarannya yang menyatakan bahwa untuk mengembangkan pikiran, pelajari matematika. Kesadaran tersebut juga tampak dalam rumusan kebijakan pendidikan matematika di Indonesia. Menurut Depdiknas (2003), salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan. Oleh karena itu pembelajaran matematika diharapkan dapat menjadi wahana yang benar dalam pembentukan kemampuan berpikir manusia. Guru sebagai pengendali wahana tersebut harus memiliki kemampuan untuk menjadikan pembelajaran matematika sedemikian hingga siswa dapat belajar matematika secara bermakna.

Pokok bahasan Hitung Integral merupakan tema yang menarik dalam pembelajaran matematika SMA. Beberapa masalah perhitungan yang tidak dapat dipecahkan dalam geometri seperti luas bidang dan volume benda ruang, dapat dipecahkan dengan menggunakan integral. Apabila pembelajaran dimulai dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang tidak dapat dipecahkan dengan teknik geometri tetapi kemudian dapat diselesaikan dengan teknik integral, tentunya menarik bagi siswa. Hasil wawancara bebas peneliti dengan guru matematika di SMA Negeri 1 Tomohon menunjukkan bahwa ketika pembelajaran menggunakan pendekatan sebagaimana yang diuraikan di atas, maka tampak siswa antusias mengikuti pembelajaran. Dikatakan bahwa dengan suasana pembelajaran seperti itu, maka guru cenderung menyimpulkan siswa tertarik dan menguasai konsep Integral. Tetapi hasil tes formatif khusus untuk pokok bahasan Integral memperlihatkan bahwa pada umumnya siswa belum memahami secara tuntas konsep tersebut. Diduga bahwa pada umumnya siswa lupa akan objek-objek matematika yang tercakup dalam pokok bahasan Integral yang pernah dipahami ketika pembelajaran berlangsung.

Pada umumnya, masalah pembelajaran matematika tampak dalam penjelasan Soedjadi (2007) yang menyatakan bahwa sudah cukup lama kita semua terbenam dalam pembelajaran matematika yang bagi banyak orang terasa asing, formal, dan hanya bermain angka atau simbol yang sulit dan serba tak berarti, bahkan tidak sedikit yang merasa ketakutan untuk menghadapi pelajaran matematika. Untuk mengatasi masalah pembelajaran seperti itu, maka diperlukan inovasi di bidang pembelajaran matematika. Salah satu hasil inovasi di bidang pembelajaran matematika adalah pendekatan Pendidikan Matematika Relalistik Indonesia (PMRI).

PMRI adalah suatu pendekatan pembelajaran matematika yang menggunakan masalah-masalah kontekstual (contextual problems) sebagai langkah awal. Berdasarkan hasil penelitian di beberapa negara, Freudenthal (Tim MKPBM 2001) mengungkapkan bahwa PMRI sangat menguntungkan karena (1) dapat membuat  matematika  lebih menarik,  relevan  dan  bermakna, tidak terlalu  formal dan tidak terlalu abstrak, (2) dapat mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa, (3) menekankan belajar matematika pada “learning by doing”, (4) dapat memfasilitasi  penyelesaian  masalah  matematika  tanpa menggunakan penyelesaian (algoritma ) yang baku, (5) menggunakan konteks sebagai titik awal pembelajaran matematika.

Suatu penelitian mengungkapkan bahwa terdapat keterbatasan kemampuan memori manusia (lupa) yang disebabkan faktor-faktor atau proses berpikir tertentu. Hal itu merupakan kenyataan alami pikiran manusia. Teori pemrosesan informasi mengidentifikasi (Slavin, 2000) adanya peristiwa interferens dan retroaktif sebagai penyebab peristiwa lupa. Interferens terjadi karena informasi yang telah dimiliki tercampur dengan informasi lain atau ditepikan oleh (pushed aside by) informasi lain. Hambatan retroaktif terjadi karena informasi yang telah dipelajari, hilang karena informasi ini tercampur dengan informasi baru yang mirip dengan informasi terdahulu. Hambatan proses berpikir seperti interferens atau retroaktif dapat dialami para siswa. Dalam aktivitas akademiknya, selain menyimpan informasi atau pengetahuan matematika, para siswa juga mempelajari atau menerima berbagai informasi lain. Dalam hal ini sangat mungkin terjadi pada siswa masalah memori karena peristiwa interferens dan retroaktif. Faktor itulah yang menyebabkan siswa tidak mampu mengungkapkan kembali  pemahaman yang mereka tunjukkan dalam setiap tatap muka pembelajaran sebelumnya.

Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan kemampuan siswa untuk mengingat dan mengalami retensi pengetahuan Integral, maka diperlukan suatu desain pembelajaran yang membantu mereka untuk mempraktekkan teori-teori yang telah dipelajari. Dalam hal ini peneliti mengusulkan suatu desain pembelajaran Integratif/Interaktif antara Teori dan Praktek (ITP) berbasis Pendekatan PMRI. Praktek yang dimaksudkan adalah suatu aktivitas fisik seperti mengamati dan melakukan analisis terhadap objek fisik (seperti permukaan benda tertentu), mencatat hasil pengamatan serta memecahkan permasalahan perhitungan dengan menerapkan konsep integral yang telah dipelajari teorinya.

Konsep Integral terdiri atas integral tak tentu, integral tertentu, teknik-teknik pengintegralan, luas bangun datar  dan volume benda putar. Konsep tersebut dibangun dari objek-objek abstrak matematika seperi konsep limit di tak hingga. Karena tingkat kemampuan siswa dalam kelas umumnya bersifat heterogen mengakibatkan kemampuannya dalam memahami objek-objek abstrak juga berbeda. Kalaupun pada akhirnya menimbulkan masalah dalam pengajaran matematika, maka perlu dilakukan antisipasi dan upaya-upaya perbaikan yang terencana oleh guru.

Untuk mengoptimalkan kemampuan siswa dalam mengingat dan mengalami retensi pengetahuan konsep integral, maka diperlukan suatu desain pembelajaran yang membantu mereka untuk mempraktekkan teori-teori yang telah dipelajari. Selanjutnya dilakukan setting antara disain dengan pendekatan PMRI. Dalam hal ini peneliti mengusulkan suatu desain pembelajaran  yang memadukan teori dan praktik yang dilaksanakan secara interaktif dan integratif untuk mengatasi kelemahan siswa untuk mengingat pemahaman konsep Integral yang dicapainya dalam setiap tatap muka. Penelitian yang ini dilakukan di bawah judul “Penerapan Desain Pembelajaran Integratif/Interaktif antara Teori dan Praktek (ITP) Berbasis Pendekatan PMRI untuk Pokok Bahasan Integral”

METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Rancangan eksperimen yang digunakan adalah pretes-posttes dua kelompok.

Kelas

Pretes

Perlakuan

Posttes

Eksperimen

Kontrol

T1

T1

X

Y

T2

T2

Keterangan:

T1    : Pretes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol

T2    : Posttes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol

X     : Perlakuan, yaitu penerapan pembelajaran dengan desain ITP berbasis pendekatan PMRI pada pokok bahasan Integral

Y     : Perlakuan, yaitu penerapan pembelajaran matematika konvensional pada pada pokok bahasan Integral

T1  =   T2

 

Definisi Operasional Variabel

Variabel-variabel dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut.

a.  Variabel bebas

1)  Variabel perlakuan

Variabel perlakuan pada penelitian ini adalah desain pembelajaran berbasis model, yaitu desain pembelajaran ITP berbasis pendekatan PMRI untuk kelas eksperimen dan pembelajaran matematika konvensional untuk kelas kontrol.

2)  Variabel terkontrol

Varibael terkontrol dalam penelitian ini terdiri dari:

a)   Guru. Guru yang mengajar kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama atau setara, yaitu guru bidang studi matematika SMA Negeri 1 Tomohon.

b)   Materi pembelajaran. Materi pembelajaran pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sama, yaitu pokok bahasan Integral, yang mengacu pada Kurikulum 2006.

c)   Waktu. Waktu yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran di kelas eksperimen dan kelas kontrol sama yaitu 12 x 45 menit

3)  Variabel tak terkontrol

Variabel tak terkontrol dalam penelitian ini antara lain: latar belakang sosial ekonomi, kondisi kesehatan siswa, budaya siswa, cara belajar siswa, pendidikan orang tua siswa, dan jarak tempat tinggal siswa dengan sekolah.

4)  Variabel kovariat (penyerta)

Variabel kovariat dalam penelitian ini adalah kemampuan awal siswa yang ditunjukkan oleh skor pretes yang diperoleh siswa.

b.  Variabel terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa setelah diberi perlakuan. Hasil belajar siswa adalah skor yang diperoleh dari hasil posttes.

Popoulasi dan Sampel Penelitian

Populasi  penelitian ini adalah semua siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Tomohon, yang terdaftar dalam tahun pelajaran 2009/2010 yang terdiri dari 5 kelas paralel. Sampel penelitian dipilih 2 kelas secara acak untuk ditetapkan menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen diberikan pembelajaran dengan desain ITP berbasis pendekatan PMRI, sedangkan kelas kontrol dengan pembelajaran matematika konvensional. Pemilihan kelas secara acak dimungkinkan karena berdasarkan informasi dari kepala sekolah dan guru bahwa pendistribusian siswa pada tiap kelas merata dalam hal kemampuan.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini diawali dengan adaptasi desain pembelajaran ITP berbasis pendekatan PMRI. Wujud kegiatan awal ini adalah Buku Disain Pembelajaran ITP berbasis pendekatan PMRI untuk pokok bahasan Integral, Naskah Pedoman Praktikum untuk  pokok bahasan Integral sub pokok bahasan Luas daerah dan Volume Benda Putar, RPP dan  Lembar Kerja Siswa. Selain itu akan disusun instrumen tes hasil belajar yang divalidasi para dosen tim peneliti. Bersamaan dengan kegiatan tersebut juga dilakukan koordinasi dengan pihak sekolah lokasi penelitian dengan tujuan menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol, hingga penetapan waktu eksperimen.

Selanjutnya dilaksanakan eksperimen yaitu pembelajaran berbarengan di kelas eksperimen dan di kelas kontrol. Pada awal kegiatan eksperimentasi, peneliti melakukan pretest dan pada akhir kegiatan akan dilakukan posttest. Dalam kedua tes digunakan instrumen yang sama. Masalah mekanisme pengendalian validitas eksperimen dipaparkan dalam bagian metode analisis.

 

Metode Analisis

Data penelitian dianalisis dengan statistik inferensial analisis kovarian (Anakova). Analisis statistik inferensial ini digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini. Data yang akan dianalisis adalah skor pretes (kemampuan awal siswa) sebagai variabel penyerta (kovariat) dan skor posttes (hasil belajar siswa) sebagai variabel terikat. Dasar penggunaan Anakova adalah karena adanya variabel kovariat sebagai variabel bebas yang sulit untuk dikontrol, tetapi dapat diukur bersamaan dengan variabel terikat. Rancangan analisis data digambarkan sebagai berikut.

Rancangan analisis data untuk anakova

Kelas eksperimen Kelas kontrol
Pretest

(X1)Posttes

(Y1)Pretest

(X2)Posttes

(Y2)X11

X 21

X 31

….

……

XN1,1Y11

Y21

Y31

……

…..

YN1,1X12

X22

X32

….

…..

XN2,2Y12

Y22

Y32

…..

….

YN2,2

Adaptasi dari Ferguson (1989:360)

Keterangan:

X1       :     kemampuan awal siswa sebagai variabel penyerta pada kelas

             eksperimen,

X2       :     kemampuan awal siswa sebagai variabel penyerta pada kelas kontrol,

Y1      :     hasil  belajar siswa  sebagai variabel terikat pada kelas eksperimen,

Y2      :     hasil  belajar siswa sebagai variabel terikat pada kelas kontrol,

N1       :     banyaknya sampel pada kelas eksperimen

N2     :     banyaknya sampel pada kelas kontrol

Agar Anakova dapat digunakan, model regresi antara variabel terikat  Y (hasil belajar siswa) dan variabel penyerta X (kemampuan awal siswa) harus memenuhi hubungan linier sederhana. Dengan demikian, perlu diuji apakah ada pengaruh kemampuan awal siswa terhadap hasil belajar siswa untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol (uji independensi), dan model regresi untuk masing-masing kelas eksperimen dan kelas kontrol harus linier (uji linieritas model regresi).

Ada pun langkah-langkah Anakova sebagai berikut.

1)      Menentukan model regresi

2)      Uji Independensi

3)      Uji linieritas model regresi

4)      Uji kesamaan dua model regresi

Jika dalam pengujian ini hipotesis nol diterima, maka kedua model regresi tidak berbeda secara signifikan. Dengan kata lain, perbedaan perlakuan terhadap kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak mengakibatkan perbedaan hasil belajar siswa dari kedua kelas tersebut. Jika hipotesis nol ditolak, dilanjutkan dengan uji kesejajaran.

5)      Uji kesejajaran dua model regresi

Jika kedua model regresi sejajar, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dan hasil belajar siswa pada kelas kontrol sebagai akibat dari perbedaan perlakuan pada kedua kelas tersebut.

Jika kedua model regresi yang dicari tidak linier atau tidak sejajar, maka Anakova tidak bisa digunakan, untuk keperluan itu akan digunakan statistik lain.

 

ANALISIS DATA HASIL PENELITIAN

Deskripsi Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data untuk analisis statistik inferensial. Data diambil dari dua kelas, yaitu kelas XII IPA 2 dan XII IPA 3 SMA Negeri 1 Tomohon. Data didapatkan dari hasil skor tes siswa sebelum dan sesudah mendapatkan perlakuan. Rentang nilai pretest dan postest adalah 0 – 100.

Analisis Data Inferensial

Dengan mengikuti langkah-langkah analisis kovarian maka berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh hasil sebagai berikut :

  1. Menentukan Model Regresi

Dari hasil yang diperoleh pada data kelas kontrol dan eksperimen diperoleh Model regresi kelas eksperimen adalah  sedangkan model regresi kelas kontrol diperoleh         

  1. Uji Independensi

Uji independensi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kemampuan awal siswa terhadap hasil belajar, analisis ini dilakukan pada setiap kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas control.

Analisis varians untuk uji independensi pada kelas eksperimen secara ringkas disajikan pada tabel berikut.

Analisis Varians untuk Uji Independensi

Kelas Eksperimen

Source of Variation

SS

df

MS

F*

Regression

Error

1712,337

5045,163

1

28

1712,337

180,184

9,503

Total

6757,500

29

Dengan taraf signifikan α = 5%, diperoleh F(0,95;1;28) = 4,196 sedangkan F* = 9,503. Berarti F* > F(0,95;1;28), sesuai dengan kriteria pengujian maka H0 ditolak. Berarti kemampuan awal siswa (X) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa (Y). Dengan menggunakan software SPSS 16.0 diperoleh hasil yang sama

Analisis varians untuk uji independensi pada kelas kontrol secara ringkas disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4.2. Analisis Varians untuk Uji Independensi Kelas Kontrol

Source of Variation

SS

df

MS

F*

Regression

Error

661,463

2312,704

1

28

661,463

82,597

8,008

Total

2974,167

29

Dengan taraf signifikan α = 5%, diperoleh F(0,95;1;28) = 4,196 sedangkan F* = 8,008. Berarti F* > F(0,95;1;28), sesuai dengan kriteria pengujian maka H0 ditolak. Berarti kemampuan awal siswa (X) mempunyai   pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa (Y). Dengan menggunakan software SPSS 16.0 diperoleh hasil yang sama untuk kelas kontrol (Lampiran 22)

 

Uji Linearitas

Uji linieritas diperlukan untuk menguji apakah model linear yang diperoleh dapat digunakan untuk menunjukkan pengaruh kemampuan awal (skor pretes) terhadap hasil belajar siswa (skor posttes).

Analisis varians untuk uji linieritas model regresi kelas eksperimen secara ringkas disajikan pada tabel berikut ini.

Analisis Varians untuk Uji Linieritas Kelas Eksperimen

Source of Variation

SS

Df

MS

F*

Lack of Fit

pure error

516,8802

4528,283

3

25

172,2934

181,1313

0,951

Total

5045,163

26

Dengan taraf signifikan α = 5%, diperoleh F(0,95;3;25)= 2,991, sedangkan F* = 0,951. Berarti F* < F(0,95;3;25) sehingga  diterima atau model regresi kelas eksperimen adalah linier. Artinya, pada kelas eksperimen, model regresi yang diperoleh dapat digunakan untuk menunjukkan pengaruh kemampuan awal siswa terhadap hasil belajar siswa.

Analisis varians untuk uji linieritas model regresi kelas kontrol secara ringkas disajikan pada tabel berikut ini.

Analisis Varians untuk Uji Linieritas Kelas Kontrol

Source of Variation

SS

Df

MS

F*

Lack of Fit

Pure error

198,5175

2114,187

3

25

66,1725

84,5675

0,782

Total

2312,704

29

Dengan taraf signifikan α = 5%, diperoleh F(0,95;3;25)= 2,991, sedangkan F* = 0,782. Berarti F* < F(0,95;3;25) sehingga  diterima atau model regresi kelas kotrol adalah linier. Artinya, pada kelas kontrol, model regresi yang diperoleh dapat digunakan untuk menunjukkan pengaruh kemampuan awal siswa terhadap hasil belajar siswa.

 

Uji Kesamaan dua model regresi

Uji kesamaan dua model regresi digunakan untuk menguji apakah kedua model regresi yang diperoleh sama. Ringkasan hasil uji kesamaan dapat dilihat pada tabel berikut.

Uji Kesamaan Dua Model Regresi

a

b

SSR (R)

SSTO (R)

SSE (R)

SSE (F)

F*

42,83

1,103

1897,306

10398,33

8501,028

7357,866

4,35

Berdasarkan Tabel 4.5 diperoleh regresi linier data gabungan Y = 42,83 + 1,103X

Pada taraf signifikan α = 5%, diperoleh F(0,95;2;56) = 3,16, sedangkan F* = 4,35

Dengan demikian, F* > F(0,95;2;56) maka ditolak. Artinya model regresi linier kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak sama, sehingga dilanjutkan dengan menguji kesejajaran model regresi.

Uji Kesejajaran

Hasil uji kesejajaran dapat dilihat pada tabel berikut.

Uji Kesejajaran Model Regresi

A

B

F*

7357,86

7487,53

0,987

Dari Tabel 4.6 diketahui F* = 0,987. Pada taraf signifikan α = 5%, diperoleh F(0,95;1;56)= 4,013 Dengan demikian, F* < F(0,95;1;56)  maka diterima. Artinya model regresi linier kelas eksperimen dan kelas kontrol sejajar.

Berdasarkan hasil uji kesamaan dan uji kesejajaran, diketahui bahwa kedua model regresi tidak sama, tetapi sejajar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan desain ITP berbasis pendekatan PMRI dengan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran  konvensional untuk topik Luas Daerah pada Pokok Bahasan Integral

Seperti sudah diuraikan sebelumnya, model regresi masing-masing untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah  dan . Dari kedua model regresi tersebut, terlihat bahwa konstanta garis regresi untuk kelas eksperimen lebih besar dari konstanta garis regresi untuk kelas kontrol. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Secara geometris, garis regresi untuk kelas eksperimen di atas garis regresi untuk kelas kontrol. Ini berarti Hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan desain ITP berbasis pendekatan PMRI lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional untuk pokok bahasan Integral di kelas XII SMA.”

Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan Analisis Kovarian maupun secara deskriptif dapat diinterpretasikan bahwa rata-rata hasil belajar siswa dengan menggunakan desain ITP berbasis pendekatan PMRI (Kelas Eksperimen) lebih tinggi dari rata-rata hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran konvensional (Kelas Kontrol). Perbedaaan rata-rata hasil belajar terjadi karena adanya perbedaan aktifitas pembelajaran pada kedua kelas tersebut Pada kelas yang dikenakkan Desain ITP berbasis pendekatan PMRI siswa disediakan pengalaman belajar yang aktif dan nyata, selain itu siswa juga diberikan peluang untuk menggunakan pengetahuan mereka sendiri guna mengkonstruksi pengetahuan baru

KESIMPULAN & SARAN

Kesimpulan

Prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan desain pembelajaran ITP berbasis pendekatan PMR lebih baik daripada siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional

Saran

  1. Untuk guru – guru matematika SMA yang mengajarkan materi integral khususnya sub pokok bahasan luas dearah untuk menggunakan desain pembelajaran ITP berbasis pendekatan PMR dalam mengajarkan materi tersebut.
  2. Untuk lebih mendukung hasil temuan pada penelitian ini, maka bagi para peneliti yang lain dapat melakukan penelitian lanjutan dan diperluas pada materi yang lain dan pada populasi yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas, (2003). Kurikulum Berbasis Kompetensi: Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika, Depdiknas : Jakarta

Gravemeijer, K. (1994). Developing Realistic Mathematics Education. Utrecht: Freudenthal Institute.

Gredler, M.E.B. (1991). Belajar dan Membelajarkan (Learning and Instruction Theory Into Practice). Terjemahan oleh Munandir. Jakarta : Rajawali

Heuvel-Panhuizen, M. van den. (2003). Mathematics Education in the Netherlands: A Guide Tour. http://www.kcl.ac.uk/education/publication/tour.pdf.

Slavin, R.E. (1997). Educational Psychology-Theory and Practice. Fifth Edition. Boston  : Allyn and Bacon.

Soedjadi, R., (2001). “Pembelajaran Matematika Realistik: pengenalan awal dan praktis.” Makalah disampaikan pada seminar Nasional di FMIPA UNESA.

———–.(2003). PMRI Memungkinkan Tumbuhnya Budaya Demokrasi. Artikel dalam Buletin PMRI Pendidikan Matematika Realistik Indonesia, Edisi II-Oktober 2003, halaman 2

———–. (2007). Masalah Konstekstual sebagai Batu Sendi Matematika Sekolah, Seri Pembelajaran Matematika Realistik untuk Guru dan Orangtua Murid. Surabaya : Pusat Sains dan Matematika Sekolah (PSMS) Universitas Negeri Surabaya

Suparno, P. 2001. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

TIM MKPBM (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia.

Zulkardi (1999). How to Design Mathematics Lessons based on the Realistic Approach?. http://www.geocities.com/ratuilma/rme.html.

———–.(2003). Developing a ‘rich’ learning environment on Realistic Mathematics Education (RME) for student teacher in Indonesia. http://projects.edte.utwente.nl/cascade/imei/publication/paperc.doc

This entry was posted in Tak terkategori. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s